Rumah kami bukanlah rumah yang besar, namun bagi Ibu, setiap jengkalnya adalah amanah. Sayangnya, selama bertahun-tahun, pojok belakang dekat area cuci selalu menjadi "titik buta". Di sana menumpuk kardus-kardus bekas, botol plastik yang niatnya ingin dikumpulkan tapi tak kunjung dijual, hingga peralatan rusak yang hanya disimpan karena alasan "mungkin nanti butuh".
Setiap kali melewati area itu, ada rasa sesak yang muncul. Debu yang menebal mulai memicu alergi bersin saya setiap pagi, dan suasana rumah terasa berat meskipun ruangan lain sudah rapi.
Perubahan terjadi pada hari Minggu lalu. Kami sekeluarga memutuskan untuk melakukan "Decluttering Total". Kami tidak hanya menyapu, tapi benar-benar memilah. Kardus yang lapuk dibuang, barang yang masih layak disumbangkan, dan sisa plastik dikirim ke bank sampah terdekat.
Setelah tiga jam bekerja, keajaiban terjadi. Ruangan yang tadinya pengap kini terasa luas. Udara terasa lebih segar mengalir ke dalam rumah, dan yang paling penting, pikiran kami terasa lebih ringan. Ternyata, kebersihan lingkungan rumah bukan sekadar soal estetika, melainkan tentang kesehatan mental dan kualitas hidup penghuninya. Rumah yang bersih adalah cermin dari ketenangan jiwa.